BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
Setiap makhluk hidup mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidupnya. Pada tumbuh-tumbuhan, pemenuhan kebutuhan tersebut berlangsung tanpa kesadaran. Pada hewan, walaupun sudah nampak adanya kemampuan untuk merasakan kebutuhan biologisnya yang bersifat spontan, namun hewan tidak memiliki, af’idah, kesadaran diri, aku, dan tidak berpribadi. Hewan memiliki tenaga dalam dirinya dan pada tingkat tertentu memiliki kesanggupan untuk menghayati atau menyadari akan kebutuhan hidupnya. Penghayatan untuk mencari pemenuhan kebutuhan hidup itu disebut naluri atau dorongan biologis yang selalu berhubungan dengan kondisi jasmaniah, sehingga erat hubungannya dengan pengindraan dan perasaan jasmaniah. Hewan kurang mampu menangguhkan dan mengendalikan jasmaniahnya.
Psikologi umum sebagai suatu ilmu pengetahuan untuk menghususkan diri untuk menyelidiki atau mempelajari dan menerangkan kegiatan-kegiatan psikis atau gejala-gejala kejiwaan yang umumnya terdapat pada manusia-manusia yang normal.[1]
Pada manusia terdapat pula kebutuhan biologis itu, namun pemuasannya sudah diwarnai oleh nilai yang ada dalam diri pribadinya. Manusia mempunyai kebutuhan makan, minum, tidur, seks, papan atau tempat tinggal, dan kebutuhan jasmaniah lainnya, namun cara mencari pemenuhan dan melaksanakan pemuasan kebutuhan jasmaniah itu dihubungkan dengan kepentingan aku nya, nilai diri pribadi, sosial dan kebudayaan. Kadang-kadang, manusia pun tidak mampu mengendalikan dan menangguhkan kebutuhan biologisnya, sehingga terjadilah tingkah laku pada taraf binatang. Pada umumnya manusia mampu mengendalikan dan menangguhkan dorongan kebutuhan biologisnya, bahkan kalau dilatih, manusia mampu menangguhkan dalam waktu yang lama, seperti terlihat pada perilaku puasa, bertapa, dan tidak menikah. Drs. Ny. Yoesoef Noesyirman menyebut kebutuhan pada manusia dengan istilah hasrat ( terjemahan dari
triebfedern yang merupakan kebutuhan manusiawi, berbeda dengan triebe yang merupakan dorongan hewani ). Pada buku-buku psikolog, hasrat itu disebut pula motivasi.
Perkembangan hasrat sejalan dengan perkembangan aku atau kepribadian seseorang, sehingga pada bayi yang baru laahir dorongan biologisnya belum diwarnai oleh aku nya yang belum terbentuk. Dengan berkembangannya kepribadian, hasrat biologis pun tidak lagi bergantung kepada keadaan jasmaniah, tetapi menyangkut makna hal yang dihayati, ditangkap, dan dipikirkan. Akhirnya, hasrat tidak saja terarah kepada pemuasan kebutuhan hidup, tetapi hasrat juga terarah untuk mengejar tujuan yang lebih tinggi yang tergolong ke dalam dunia nilai, dunia ideal, dan rohaniah. Pada perkembangan kepribadian selanjutnya, hasrat baru ini terlepas dari segi biologis. G. W. Allport menerangkan keunikan terbentuknya motif pribadi seseorang dalam perkembangan kepribadian melalui pembentukan autonomi fungsional. Artinya motif baru dapat terbentuk dan berfungsi secara otonom, berdiri sendiri, terlepas dari segi-segi biologis dan motif dasar melalui pengalaman kehidupan psikis seseorang.[2]
B. Rumusan Masalah
Setelah menelaah latar belakang penulisan makalah ini maka kami membatasi dan merumuskan masalah yang akan tertuang di dalam makalah ini sebagai berikut:
a. Apa yang disebut dengan hasrat itu?
b. Apakah setiap manusia mempunyai hasrat?
c. bagaimana hasrat membentuk motif seseorang dalam kehidupannya?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang utama dari penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah psikologi umum pada semester III ini, dan untuk membuka wawasan kami dan juga pembaca dalam masalah tentang golongan-golongan hasrat.
D. Metode Penulisan
Metode yang kami gunakan dalam membuat makalah ini adalah dengan metode kepustakaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hasrat