WELCOME

Sabtu, 07 Mei 2011

TAFSIR, TAKWIL DAN TERJEMAH


BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Al-Qur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya, di antaranya bersifat transformatif. Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan, Zhulumat (di bidang akidah, hukum, politik, ekonomi, sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya, Nur petunjuk ilahi untuk menciptakan kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia, dunia-akhirat. Dari prinsip yang diyakini kaum muslim inilah usaha-usaha manusia muslim dikerahkan untuk menggali format-format petunjuk yang dijanjikan bakal mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. Nah dalam upaya penggalian prinsip dan nilai-nilai Qur'ani yang berdimensi keilahian dan kemanusiaan itulah penafsiran dihasilkan.
Maka dari diktum itu pulalah, konsep tentang manusia dan identitasnya dalam menjabarkan misi kekhalifahan dan ubudiyyah di muka bumi menjadi penentu yang determinan dalam proses mengkaji dan memahami teks suci yang diyakini akan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia.
2. RUMUSAN MASALAH
Dari keterangan diatas maka akan dibahas:
1.      Apa pengertian Tafsir, Takwil dan Terjemah?
2.      Bagaimana pembagian tafsir?
3.      Apa metodologi yang digunakan dalam tafsir?
4.      Apa macam-macam takwil dan macam-macam terjemah?


BAB II
PEMBAHASAN
A. TAFSIR
1. Sejarah Tafsir Al-Qur'an
Sejarah ini diawali dengan masa Rasulullah SAW masih hidup seringkali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Untuk itu mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah SAW. Secara garis besar ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an

Kamis, 21 April 2011

KERAJAAN TURKI USMANI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam politik ketika masuk dalam barisan tentara profesional maupun dalam birokrasi pemerintahan. Begitu juga masyarakat Turki menekankan pembaharuan-pembaharuan kelompok sekuleris Republik Turki, sehingga masyarakat Turki mempunyai ciri khas ke-Islamannya. Maka di tahun belakangan ini Turki telah memperlihatkan suatu kontras yang menyolok dengan negeri-negeri Islam di Timur Tengah, baik di bidang politik luar negeri, tapi kebanyakan negeri Islam lain telah memperlakukan dunia barat dengan sikap yang berkisar dari sikap netral sambil merenggut namun penuh harap sampai kepada sikap yang terang-terangan permusuhan sehingga timbullah permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Apakah yang menjadi politik bangsa Turki berkembang dan apakah ada perubahan-perubahan oleh bangsa Turki?
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimanakah sejarah terbentuknya kerajaan Turki Usmani?
1.2.2. Bagaimanakah proses masa kerajaan Turki Usmani?
1.2.3. Apakah sebab kemunduran kerajaan Turki Usmani?
1.3. Tujuan
1.3.1. Mengetahui sejarah terbentuknya kerajaan Turki Usmani
1.3.2. Mengetahui proses kerajaan Turki Usmani
1.3.3. Mengetahui sebab kemunduran kerajaan Turki Usmani
1.4. Metode Penulisan
1.4.1. Metode penulisan dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan.


BAB II
PEMBAHASAN

Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara mongol,kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, diantaranya Usmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.[1] Untuk mengetahui lebih jelasnya maka dalam makalah ini akan kami terangkan lebih lanjut mengenai Turki Usmani.

A. Asal-Usul Dinasti Turki Usmani

Minggu, 10 April 2011

AHLUSSUNNAH SALAF DAN KHLAF


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan bathin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kejidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.
Berbagai pemikiran yang tumbuh dalam masyarakat Muslim mendapatkan pengakuan yang apresiatif. Keterbukaan yang demikian lebar untuk menerima berbagai pendapat menjadikan Ahlussunnah wal Jama'ah memiliki kemampuan untuk meredam berbagai konflik internal umat. Corak ini sangat tampak dalam wacana pemikiran hukum Islam yang paling realistik dan paling banyak menyentuh aspek relasi sosial.
Dalam diskursus sosial-budaya, Ahlussunnah wal Jama'ah banyak melakukan toleransi terhadap tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya, bahkan tetap berusaha untuk mengarahkannya. Formalisme dalam aspek-aspek kebudayaan dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama'ah tidaklah memiliki signifikansi yang kuat. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam tradisi kaum Sunni terkesan hadirnya wajah kultur Syi'ah atau bahkan Hinduisme.
Sikap toleran Ahlussunnah wal Jama'ah yang demikian telah memberikan makna khusus dalam hubungannya dengan dimensi kemanusiaan secara lebih luas. Hal ini pula yang membuatnya menarik banyak kaum muslimin di berbagai wilayah dunia. Pluralistiknya pikiran dan sikap hidup masyarakat adalah keniscayaan dan ini akan mengantarkannya kepada visi kehidupan dunia yang rahmat di bawah prinsip ketuhanan.[1]
Pada masa Ahlu Sunnah salaf dan khalaf banyak terjadi perselisihan antara ulama-ulama pada saat itu, yang paling signifikan adalah masalah tentang Ilmu kalam, dimana ulama-ulama pada saat itu menggunakan kerangka dan pola pikir mereka yang berbeda satu dengan lainnya dalam memahami masalah ayat mutasyabihat dan lain sebagainya, sehingga menumbuhkan atau kata lain menimbulkan pemahaman yang berbeda pula.
Diantara tokoh-tokohnya ialah Imam Ahmad bin Hambal, Ibn Taimiyah, Az-Zuhri, Ja’far Ash-Shadiq yang mana mereka dikategorikan dari golongan Salaf dan Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi yang mana keduanya masuk pada golongan ulama Khalaf.
Ulama-ulama tersebut itu adalah ulama yang sangat berjasa untuk Islam pada masa mereka dan berlanjut sampai sekarang, masa yang penuh dengan kecamuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat mereka.
B. RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan pokok masalah yang dibicarakan tentang, “Aliran As-salaf & Al-Khalaf” maka rumusan masalah ini difokuskan pada :
  1. Apa yang dimaksud dengan As-salaf itu ?
  2. Dan siapa Al-Khalaf itu ?
  3. Apa hubungannya Al-Khalaf dengan As-salaf ?


C. TUJUAN
Tujuan merupakan arah terakhir dari suatu kegiatan, tanpa tujuan yang telah ditentukan sebelumnya makalah ini tidak akan sampai pada tujuan. Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah :
  1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
  2. Dengan mempelajari Aliran As-salaf & Al-Khalaf sehingga kita dapat mengetahui ulama-ulama pada masa Salaf dan Khalaf dan juga kita akan mengerti serta memahami Misi dari kedua aliran tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Aliran As-Salaf
Arti salaf secara bahasa adalah pendahulu bagi suatu generasi. Sedangkan dalam istilah syari’ah Islamiyah